Home Program 1000 Kaki Palsu

1000 Kaki Palsu

by admin

Namanya Sugeng Siswoyudono, penampilannya tampak nyentrik dengan mengenakan jaket loreng ala tentara dan topi kupluk merah menutupi rambut gondrongnya yang dikuncir ekor kuda. Cara bicaranya ceplas-ceplos, ia mengaku pekerjaannya sebagai loper susu. Dari cara jalannya, tidak ada yang mengira kalau kaki kanannya mengenakan kaki palsu sebatas lutut. Kecelakaan lalu lintas yang dialami saat duduk di kelas dua SMA menyebabkan Sugeng kehilangan kaki kanannya.

Sehari-hari, Sugeng berprofesi sebagai loper susu. Setiap pagi ia mengantarkan susu sapi segar ke warung-warung di seputaran desanya, desa Mojosari. Kondisi berkaki satu tak membuat Sugeng patah semangat. Dia justru membangkitkan semangat sesamanya. Keterampilannya membuat kaki palsu pun tidak hanya dinikmatinya sendiri. Di rumahnya, Sugeng juga membangun bengkel kaki palsu. Sugeng bukan semata-mata memberikan kaki palsu dan memungkinkan para penyandang disabilitas hingga dapat beraktivitas normal kembali tapi juga membagi semangat dan membangkitkan kemandirian. “Saya tidak jualan kaki palsu,” jawaban itu kerap dilontarkan tiap kali ada yang menghubunginya untuk memesan kaki palsu. Sugeng tidak menjual kaki palsunya, ia bahkan menuntut para pasiennya untuk dapat memperbaiki sendiri kaki palsu sehingga dapat mandiri.

Semangat Sugeng tersebut menginspirasi Kick Andy Foundation untuk melahirkan gerakan 1000 Kaki Palsu Gratis pada 2008. Hingga kini, Kick Andy telah menyalurkan 1602 kaki palsu ke seluruh Indonesia. Angka 1000 merupakan simbol bahwa Kick Andy akan memberikan banyak kaki palsu kepada siapa saja yang membutuhkan. Namun, dalam prakteknya program ini tidak berhenti di angka 1000 seperti penamaannya, tetapi terus menyalurkan kaki palsu kepada yang membutuhkan.

Seperti virus, semangat Sugeng menular kepada orang-orang yang menerima kaki palsunya. Tidak jarang diantara para penerima kaki palsunya kemudian menjadi sukarelawan yang turut memberikan informasi, mengantarkan untuk memperoleh kaki palsu, bahkan hingga membuka bengkel kaki palsu.

Kaki palsu menjadi simbol kebangkitan fisik, yaitu bagi mereka yang semula tidak mempunyai kaki dan tidak dapat melakukan apapun menjadi dapat kembali melakukan aktifitasnya. Melalui kaki palsu, juga dilakukan kebangkitan ekonomi, yaitu mereka yang semula tidak mempunyai kaki dan tidak dapat melakukan apapun dan dari sudut pandang ekonomi menjadi sebuah beban, dapat lebih mandiri bahkan dapat masuk ke sektor real ekonomi. Sementara itu kebangkitan mental yaitu mereka yang semula tertekan dan merasa menyusahkan orang dapat menjadi Sugeng-Sugeng yang baru untuk dapat kembali berjalan dan memulai hidup baru dengan kemandirian